SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, memberikan tantangan sekaligus kepercayaan besar kepada para kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Jawa Tengah. Luthfi secara langsung meminta mahasiswa untuk turun tangan menjadi “pahlawan” dalam upaya pengentasan kemiskinan di desa-desa sasaran.
Permintaan ini disampaikan Luthfi saat menghadiri pelantikan Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Jawa Tengah di Wisma Perdamaian, Kota Semarang. Menurutnya, PMII sebagai organisasi pergerakan memiliki peran strategis untuk bersinergi dengan pemerintah.
“Di seluruh cabang di kabupaten/kota wilayah Jawa Tengah, tempelkan sahabat/sahabati ke seluruh bupati dan wali kotanya,” kata Luthfi. Ia menegaskan bahwa para mahasiswa akan mendapatkan porsi khusus sebagai pendamping desa.
Luthfi menjelaskan bahwa pendampingan ini akan fokus pada desa-desa termiskin yang tersebar di 10 kabupaten/kota termiskin di Jawa Tengah. Desa-desa ini akan mendapatkan intervensi komprehensif, dan peran mahasiswa sangat dibutuhkan untuk memastikan setiap program berjalan tepat sasaran.
Saat ini, angka kemiskinan di Jawa Tengah berada di 9,48%, turun dari 9,58% pada September 2024. Meskipun ada penurunan, tantangan untuk menuntaskan kemiskinan tetap besar. Indikator utama kemiskinan yang menjadi fokus adalah pendidikan, kesehatan, kebutuhan pokok, dan ketersediaan rumah layak huni.
Selain sebagai pendamping, mahasiswa juga diminta menjadi ujung tombak pengawasan. Luthfi meminta agar mahasiswa ikut mengawasi penyaluran bantuan dan melaporkan hasilnya setiap tiga bulan sekali untuk dievaluasi.
“Mahasiswa kita minta untuk ikut mengawasi. Dengan bersama-sama itu, kita akan mampu menunjukkan bahwa Jawa Tengah bisa maju berkelanjutan,” tegas Luthfi.
Kolaborasi antara pemerintah, organisasi masyarakat, dan mahasiswa diharapkan mampu menciptakan terobosan baru dalam menanggulangi kemiskinan. Luthfi menutup pesannya dengan semangat, “Kalau kolaborasi itu bisa dilakukan, maka itulah tangan terkepal maju ke muka.”
















