Peneliti UGM Catat 311 Insiden Ucapan Tak Pantas dalam Pidato Prabowo

  • Bagikan

Yogyakarta, Suryamediagroup.com – Kelompok studi Electoral Politics & Public Opinion Studies (EPPOS) Universitas Gadjah Mada (UGM) mencatat 311 insiden ucapan yang dikategorikan tidak pantas dalam pidato Presiden Prabowo Subianto selama periode Oktober 2024 hingga Oktober 2026.

Temuan tersebut dipublikasikan melalui kajian bertajuk Dua Tahun di Podium yang dirilis pada Senin, 26 Oktober 2026. Penelitian itu menganalisis 166 pidato publik Prabowo selama dua tahun pertama pemerintahannya.

Dalam laporan tersebut, 311 insiden ditemukan dalam 84 pidato. Jumlahnya meningkat dari 105 insiden pada tahun pertama menjadi 206 insiden pada tahun kedua.

Tim peneliti juga mencatat 222 insiden atau 71,4 persen terjadi dalam acara kenegaraan dan program pemerintah yang disiarkan melalui kanal resmi.

Selain itu, sebanyak 151 insiden dikategorikan sebagai pernyataan yang mendelegitimasi kritik. Dari jumlah tersebut, 107 insiden terjadi dalam acara kenegaraan dan program pemerintah.

Temuan ini merupakan hasil kategorisasi tim peneliti berdasarkan indikator yang digunakan dalam kajian. Kategori tersebut perlu dipahami sebagai hasil analisis akademik, bukan sebagai putusan hukum terhadap pernyataan Presiden.

Durasi Pidato Bertambah

Kajian EPPOS UGM juga mencatat total durasi 166 pidato publik Prabowo mencapai 80,6 jam, dengan jumlah sekitar 326.800 kata.

Durasi pidato meningkat dari 9,9 jam pada semester pertama menjadi 29,2 jam pada semester keempat. Pada periode yang sama, jumlah pidato bertema program pemerintah bertambah dari tiga menjadi 27 per semester.

Penelitian itu turut membandingkan tren tersebut dengan data kepuasan publik. Berdasarkan rata-rata 29 survei opini publik yang dihimpun dalam kajian, tingkat kepuasan tercatat turun dari 80,5 persen menjadi 58 persen.

Meski demikian, perubahan durasi pidato dan tingkat kepuasan publik yang berlangsung pada periode yang sama tidak dengan sendirinya membuktikan hubungan sebab-akibat.

Tim peneliti juga menemukan peningkatan skor retorika antagonistik dari 0,99 menjadi 1,32 serta skor populisme dari 1,23 menjadi 1,65 antara tahun pertama dan tahun kedua. Menurut laporan tersebut, perubahan kedua indikator itu signifikan secara statistik berdasarkan metode yang digunakan.

Penelitian dilakukan dengan mengumpulkan dan memverifikasi rekaman pidato dari kanal YouTube Sekretariat Presiden serta sumber lain yang dinilai terverifikasi. Rekaman kemudian ditranskripsikan, dikategorikan, dan dianalisis melalui pengodean manual, bantuan model bahasa besar (large language model), serta analisis statistik.

Kajian tersebut dimaksudkan untuk mengidentifikasi pola komunikasi Presiden selama dua tahun pertama pemerintahannya dan menjadi bahan evaluasi bagi masyarakat maupun pengambil kebijakan.

Sumber: Siaran pers EPPOS PolGov UGM, 26 Oktober 2026.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *