Isu pembangunan menara telekomunikasi di dekat SDN 04/06 Bantarbolang, Pemalang, menuai protes keras dari para wali murid. Mereka mengungkapkan kekhawatiran mendalam mengenai potensi dampak radiasi dan bahaya lain yang bisa mengancam kesehatan serta keselamatan anak-anak.
Kemarahan warga memuncak saat musyawarah pada Rabu, 30 Juli 2025. Dalam pertemuan itu, Kepala Desa Bantarbolang, Dyah Anggraeni, SE, membuat pernyataan yang dianggap sangat tidak peka: “Saya lupa kalau di lokasi sekolah ada anak-anak.”
Pernyataan ini sontak memicu kemarahan para wali murid. Mereka mempertanyakan bagaimana sebuah proyek bisa direncanakan di lokasi yang begitu dekat dengan sekolah tanpa mempertimbangkan keberadaan ratusan siswa. Mereka juga menyoroti kurangnya transparansi dan komunikasi yang efektif antara pemerintah desa, pihak sekolah, dan wali murid.
Sebagai bentuk penolakan, para wali murid menuntut agar proyek tersebut dihentikan dan dilakukan kajian ulang secara menyeluruh. Mereka menegaskan bahwa keselamatan dan masa depan anak-anak adalah prioritas utama yang tidak bisa ditawar.
Hingga saat ini, situasi ini telah menjadi sorotan publik dan menuntut langkah konkret dari pemerintah daerah. Wali murid berharap adanya akuntabilitas dan perlindungan terhadap generasi muda menjadi fondasi utama dalam setiap keputusan pembangunan.















